1000 Guru Jogja; Ribuan Langkah, Sejuta Refleksi, Satu Rasa [by: Filemon Agung Hadiwardoyo]

Guratan Cerita Traveling & Teaching 12 bersama 1000 Guru Jogja

Pada usia 5 tahun, anak-anak umumnya semakin tumbuh rasa ingin tahunya, semakin menunjukkan keaktifannya dan sedang lucu-lucunya. Segala ciri khas kekanakan ini biasanya membuat orang-orang di sekitar turut merasa ceria. Sifat sebagai pembawa kegembiraan ini menjadi penting tidak hanya bagi si anak tapi juga bagi orang-orang di sekitarnya.

Komunitas 1000 Guru juga kini memasuki usia 5 tahun tepat pada 22 Agustus 2017 kemarin. Sifat khas anak-anak di atas nampaknya juga melekat pada komunitas ini. Terdiri dari para kaum muda, komunitas ini selalu berusaha menjelajah hal-hal baru, tempat baru dengan inovasi-inovasi baru yang tak hanya menarik tapi juga bermanfaat.

Salah satunya adalah lewat kegiatan Traveling & Teaching atau lebih dikenal dengan istilah TNT. Singkatan yang serupa dengan bahan peledak ini tidak berbahaya, kegiatan ini diisi dengan hal-hal positif dan selalu membawa sukacita tiap kali ia berhasil meledak. Saya rasa ia selalu berhasil.

Saya adalah salah satu “korbannya”. Tergabung sebagai volunteer atau tenaga sukarela dalam kegiatan TNT 12, saya pribadi menemukan manfaat tersendiri dari kegiatan yang dilaksanakan pada 25-27 Agustus 2017 ini. Ada puluhan anak muda yang ikut dalam kegiatan kemarin, mereka datang dengan berbagai macam motivasi, dan beragam latar belakang.

Pada kegiatan kali ini, tim 1000 Guru Jogja mengunjungi MI Yappi Karangtritis Gunung Kidul. Sebuah sekolah yang berjarak 3 jam perjalanan dengan mobil dari kota Jogja ini menyimpan banyak kisah. Mulai dari infrastruktur hingga kisah-kisah lain dibalik simpul senyum bahkan tawa lepas anak-anak di sana.

Bagi saya pribadi, sebuah sekolah yang penuh dan ramai akan peserta didik merupakan sekolah yang menyenangkan. Saya akan punya banyak teman dan saya tentu bisa melakukan banyak kegiatan bersama-sama termasuk bermain sepak bola, salah satu olahraga favorit saya.

Bayangan saya akan sekolah ideal ini nampaknya tak berlaku di Sekolah yang kami kunjungi. Sekolah ini hanya memiliki 22 siswa, ya hanya 22 siswa, rata-rata tiap kelas memiliki 3-4 siswa kecuali kelas 2 yang hanya memiliki seorang siswa saja.

Dalam kegiatan pembekalan, memang kami sudah diberitahu tentang hal ini namun entah kenapa setelah melihat secara langsung tetap saja muncul rasa terkejut bercampur miris. Jumlah kepala keluarga yang hanya 100-an juga menjadi faktor kenapa jumlah murid tidak banyak, kira-kira begitu yang saya tangkap dari sambutan bapak kepala dukuh.

Kegiatan kemarin sebenarnya berjalan secara sederhana, setiap tim volunteer yang terdiri dari 3-4 orang bertugas mengisi kegiatan di kelas seperti mewarnai dan menggambar hingga bernyanyi, dan sebelum memulai kegiatan kelas anak-anak diajak mengikuti upacara dengan saya sebagai pemimpin upacara, sebuah kegembiraan bagi saya yang seorang katolik diberikan kesempatan terlibat dalam upacara di sebuah sekolah yang berbasis pendidikan agama islam.

Mungkin lain kali akan saya ceritakan lebih lanjut tentang pengalaman spesial ini. Setelah upacara ada kegiatan ice breaking yang menurut saya tidak hanya sukses melepas tawa kami semua tapi juga semakin mendekatkan kami dengan anak-anak.Lalu kenapa saya sebut kegiatan ini sederhana?

Dari berbagai pengalaman saya, kegiatan-kegiatan ini mungkin tidak akan berhasil jika diterapkan di daerah perkotaan terutama bagi anak-anak yang dapat dengan mudahnya mendapatkan berbagai bahan untuk menggambar dan mewarnai. Namun, respons yang kami dapatkan di sini menurut saya luar biasa. Anak-anak amat antusias, tak ada rasa lelah sekalipun sudah mengikuti kegiatan ini berjam-jam.

Pada akhir kegiatan, anak-anak diajak untuk belajar mencuci tangan dengan baik dan benar, bermain secara kelompok dalam lomba-lomba yang disiapkan hingga makan bersama. Teman-teman panitia nampaknya sadar betul bahwa ada pihak lain yang juga perlu mendapatkan perhatian, para wali murid diajak untuk mengikuti penyuluhan dan pemeriksaan kesehatan secara gratis.

Anak-anak juga mendapatkan donasi berupa tas, sepatu hingga susu. Pembagian donasi dikemas sedemikian rupa agar tidak sekedar menjadi kegiatan biasa, para volunteer diajak untuk memotivasi adik-adik sembari memberikan donasi. Motivasi ini menjadi penting karena kata-kata sekalipun terlihat sederhana namun ia punya kekuatan besar untuk membangkitkan semangat dalam diri.

Dalam kegiatan sharing bersama di Pantai Goa Lawang seusai kegiatan mengajar, saya pribadi dapat memetik banyak kisah menarik dari teman-teman yang tergabung dalam kegiatan ini. Saya bahkan takjub melihat banyaknya mahasiswa pascasarjana yang ikut dalam kegiatan ini. Ada yang baru pertama kali terlibat dalam kegiatan pendampingan anak, namun banyak pula yang sudah terbiasa dengan kegiatan seperti ini.

Setiap kita sungguh menyadari bahwa kami tak hanya “mengajar” tapi kami juga belajar, baik dari anak-anak maupun dari warga sekitar. Di balik segala tawa yang anak-anak tunjukkan hari itu saya menemukan fakta menarik dan menyayat hati terkait kondisi keluarga anak-anak di sana.

Salah seorang teman dalam kegiatan itu bercerita bahwa dalam obrolan bersama para wali dan guru ia mendapatkan fakta bahwa banyak dari anak-anak ini hidup tidak bersama orang tua mereka namun dengan kakek dan nenek mereka. Banyak dari orangtua anak-anak yang pergi bekerja di kota. Ah sungguh saya pun tak bisa membayangkan hidup jauh dari orangtua di usia seperti itu.

Dari seribu langkah bersama, dan sejuta refleksi dari teman-teman yang inspiratif saya menemukan satu rasa yang sama, peduli. Orang butuh peduli untuk mau terlibat atau setidaknya mencoba. Lalu saya teringat tulisan di baju salah satu pengendara motor yang saya jumpai pagi tadi dalam perjalanan ke Kampus, “Education is slow-motion, but it has powerful forces.

 

[Filemon Agung Hadiwardoyo, Mahasiswa Sastra Inggris Univ Sanata Dharma Yogyakarta]

You may also like...

Popular Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *