Kami Juga Indonesia, Kami Butuh Sekolah Negeri

Pagi ini terasa dingin, mendung tebal bergerak dan berkumpul membentuk gumpalan hitam, sebentar lagi turun hujan. Samar-samar terdengar suara anak-anak nyaring bernyanyi dan belajar pagi ini.  “Ah pasti nanti kelas kami pasti bocor lagi” Keluh Bambang, murid kelas 4 SD ini, maklum, karena ruasng kelas mereka hanya berupa bangun gubug berdinding bamboo beratap ilalang. Tapi keceriaan tetap terpancar dari setiap anak-anak yang semangat belajar di SD 1 filial GiriJagabaya ini. Suara keceriaan anak-anak memecahkan heningnya pagi ini didesa Girijagabaya, sebuah desa dipelosok Kabupaten Lebak Banten. Letak desa yang berada jauh dari ibukota kecamatan, membuat desa ini serasa terisolir. Jalanan yang beraspal tipis berlobang sana sini, membuat semakin parah akses masuk ke desa ini. NBila hujan tiba, akan sangat susah dilalui kendaraan.

Agak Heran, pembangunan jalan beraspal yang notabene sebagai akses masyarakat untuk memutar roda ekonomi sering rusak dalam beberapa bulan saja. Kadang malah lebih tebal kue lapis daripada kualitas aspal jalan yang dibangun oleh kontraktor nakal. Lagi-lagi rakyat yang dirugikan.

Agus setiawan namanya, pemuda berusia 19 tahun ini adalah pemuda asli desa Girijagabaya, salah satu pemuda yang berhasil lulus SMA. Hanya ada 2 orang yang dapat menyelesaikan pendidikan SMA di desa ini, dua orang itu adalah Agus dan Nurman. Lalu bagaimana dengan anak-anak Lainnya? Mereka kebanyakan putus sekolah. Jarak sekolah yang jauh dari desa ini membuat banyak anak-anak putus sekolah, malas untuk belajar ditambah lagi tingkat ekonomi keluarga yang sangat rendah. Tak ada sekolah di desa ini, tak ada sarana pendidikan. Bayangkan saja, untuk bersekolah Dasar Negeri saja, anak-anak Girijagabaya harus berjalan kaki sejauh 4 Km sekali jalan, dengan pulang pergi jarak yang ditempuh adalah 8 Km. Butuh 3 jam waktu yang diperlukan. Sungguh pengorbanan yang sangat berat bagi ana-anak usia SD untuk berjalan sejauh itu. Tak ayal banyak anak-anak yang malas sekolah hanya membantu orangtua di kebun.

Keadaan seperti memaksa mereka untuk tak bersekolah. Padahal Masyarakat sangat menginginkan adanya sarana pendidikan didesa ini, mereka ingin anak-anak dapat mengenyam penddikan seperti anak-anak Indonesia lainya. Entah mengapa, sekolah yang masyarakat inginkan untuk anak-anak mereka tak kunjung ada dan di bangun didesa ini. Masyarakat pernah mengajukan untuk diadakannya kegiatan belajar mengajar didesa ini, tapi lama tak ada jawaban. Dan anak-anak mereka pun terpaksa harus berjalan kaki menuju sekolah. Tak jauh dari desa Girijaganaya ada sebuah Sekolah Madrasah yang jaraknya 1 KM dari didesa ini, tetapi yang masyarakat inginkan adalah “Sekolah Negeri”

Akhirnya masyarakat mendirikan kelas darurat sederhana, membuat sekolah cabang atau filial. Keterbatasan biaya yang mereka miliki, masyarakat Girijagabaya pun hanya sanggup membangun sebuah gubug berdinding bambu dan beratap ilalang, dengan lebar 6 x 6 M. Sesungguhnya bangunan ini tak layak disebut sebagai ruang kelas, tapi mau bagaimana lagi, anak-anak mereka harus sekolah. Karena pendidikan dapat membuat mereka keluar dari kekuarangan, bekal untuk meraih masa depan  yang cerah di masa yang akan datang.

Di sekolah dan kampung inilah Agus setiawan mengabdikan dirinya, mendidik anak-anak kampungnya untuk terus bisa bersekolah. Dengan ketulusan hatinya ia mengajar anak-anak ini. Ia mengajar hamper seluruh mata pelajaran. Dalam mendidik anak-anak disekolah ini, Agus tak sendiri, ada 9 guru yang mengajar bergantian dikelas ini dan ada 31 anak-anak murid dari kelas 1 – 4.

Bagi Agus menjadi pendidik honorer lulusan SMA dan bergaji 200,000 ribu, adalah panggilan hati. Inginnya yang besar untuk membuat anak-anak Girijagabaya menjadi pandai dan bersekolah adalah motivasi utamanya menjadi guru di SD ini. Walau banyak tawaran pekerjaan diluar desa, tak membuat agus bergeming dan tetap mengabdikan diri mendidik anak-anak di kampung ini.

Ia ingin anak-anak di kampung ini dapat lulus SMA seperti dirinya. Tak hanya lulusan SD dan putus sekolah karena jauhnya jarak SMP dan SMA. Kelak anak-anak ini yang akan membangun desanya, menjadikan generasi desa Girijagabaya menjadi calon pemimpin-pemimpin Banten. Yang dapat mensejahterkan rakyat, membangun pendidikan yang berkualitas untuk anak-anak Banten.

4 bulan sudah Agus mengabdi sebagai guru honor di SD N 1 filial Giri Jaga Baya. Honornya pun tak pernah naik, bangunan kelas yang berbentuk gubug berdinding bambu pun tak pernah berubah. Tetap sama, Reot. Masyarakat, guru pun tak tau kapan pemerintah akan turun tangan untuk membangun sebuah gedung sekolah yang layak, seperti sarana pendidikan yang dienyam oleh anak-anak pejabat negeri ini. Bukan sarana pendidikan ala kadarnya, ruang kelas yang lebih mirip seperti kadang ayam.

Lihatlah senyum ceria Neng, murid kelas 4 ini. Keceriaan anak-anak seperti Inilah yang membuat Agus tetap semangat mengajar anak-anak SDN 1 Girijagabaya. Lihat betapa manisnya anak-anak meraka, dan mereka juga adalah Anak Indonesia, Anak yang berhak bersekolah di negeri, dengan fasilitas pendidikan yang layak, mereka pun mempunyai hak yang sama untuk mendapat sarana pendidikan. Mimpi masyarakat, guru dan anak-anak di Girijagabaya hanya satu, “Kami butuh sekolah Negeri di desa ini, agar anak-anak kami tak jauh berjalan kaki, mereka dapat terus bersekolah”.

Berbeda dengan Jakarta, ibukota Negara republik ini, pusat pemerintahan yang hanya 6 jam dari tempat ini, disana sekolah-sekolah mewah berdiri mentereng, dengan segala sarana pendidikan yang lengkap. Tapi disini, dipulau yang sama, didesa Girijagabya, Tak ada kemewahan untuk anak-anak ini, yang ada hanya senyum keceriaan dan semangat untuk tetap sekolah ditengah keterbatasan sarana pendidikan. Bagaimana Neng mau jadi dokter gigi, kalau bangunan sekolahan tak ada di kampungnya? Bagaimana Bambang mau jadi pilot, kalo sarana pendidikannya saja apa adanya?.

Satu jawaban Agus ketika kami tanya mengapa ia tetap bertahan menjadi guru honor untuk anak-anak ini ” Saya Ingin merubah masa depan anak-anak Girijagabaya, agar kelak mereka dapat sekolah sampai ke jenjang pendidikan tinggi”

Kalau saja anak-anak para pemimpin daerah Banten atau pemimpin Republik ini bersekolah di gedung seperti seperti SDN 1 filial Girijagabaya, apa rasanya?.

Ini adalah realita pendidikan dipelosok negeri, 6 jam dari Ibukota Negara yang kaya. Semoga kisah ini menjadi inspirasi bagi kita untuk mendidik dengan hati, bukan sekedar mengejar materi. Dan semoga pula dengan kisah ini, pemerintah tanggap memperbaiki dan membangun sarana pendidikan yang layak bagi anak-anak bangsa.

“Mereka juga Anak Negeri Indonesia, yang butuh Sekolah Negeri”

Sumber: seribuguru.org

You may also like...

Popular Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *