Ketika Mereka Menjawab Wakil Presiden Saat Ini Adalah Moh. Hatta

Setelah 3 jam dipesawat, saya pun tiba di Bandara Eltari Kupang, tujuan selanjutnya adalah Kolbano, 4 jam dari Kupang melalu kota Soe.

Jalanan dari Bandara hingga kota Soe selama 2  jam ditempuh dengan jalan yang mulus, beraspal dan sedikit berkelok, sedikit membuat mual perut. Saya membayar Rp.  25,000 untuk dapat sampai dikota Soe dengan mobil Travel.

2 Jam sudah, saya pun sampai dikota Soe, sebuah kota yang sejuk, seperti kota bogor. Perjalanan selanjutnya adalah menumpang angkot umum Rp. 5,000 menuju Niki-niki, lalu ojek Rp. 50,000 menuju Kolbano, Kie Timor Tengah Selatan.

Ditengah perjalanan menuju pedalaman Kolbano, ada pemandangan yang tak biasa, membuat saya berhenti dan mengambil beberapa foto, sebuah bendera merah putih dihalaman sekolah yang terpasang terbalik, putih diatas dan merah dibawah. Hampir 5 jam bendera Merah putih terpasang terbalik, dan taka da yang mencoba memperbaiki posisi bendera yang terbalik tersebut. Dan akhirnya setelah saya memberitahu guru bahwa bendera terpasang terbalik, guru tersebut memerintahkan menurunkan dan menaikan kembali dengan posisi benar.

Saya pun menjadi bertanya-tanya, apakah anak-anak dipedalaman ini tak mengerti warna bendera negeri ini? Atau memang mereka selama ini tak diberikan perhatian oleh Indonesia? Sehingga mereka tak mengenal negeri ini lewat warna benderanya?  Saya mencoba mencari jawabannya, menurut guru, anak-anak yang salah menaikan bendera.  Akhirnya perjalanan pun kembali berlanjut, Saya mengunjungi sebuah sekolah Inpres didesa Babuin, kebetulan anak-anak telah selesai belajar, mereka bersiap untuk pulang. Dengan membeli beberapa snack dan permen kami pun mengajak anak-anak masuk kelas dan membuat permainan kecil serta kuis.

Beberapa anak-anak tampak hanya menggunakan sandal jepit, hanya sebagian saja yang menggunakan sepatu. Banyak anak-anak di desa ini datang untuk bersekolah dengan berjalan kaki berkilo-kilo meter jauhnya, jalanan yang terjal, becek bila hujan serta panas berdebu bila musim kemarau.

Saya pun memulai kuis dengan melontarkan pertanyaan pertama untuk anak-anak, “Siapakah Menteri Pendidikan Indonesia?”

Semua anak-anak terdiam, saling berbisik, tak ada yang menjawab. Tampak dahi para guru-guru yang ada dikelas pun berkenyit berfikir, siapakah gerangan Menteri Pendidikan negeri ini?. Karena taka da yang bias menjawab saya pun mulai memberikan kata clue, huruf pertama dan kedua adalah M. N**, hanya tiga angka, “siapa yang tau nama menteri pendidikan kita?” saya bertanya kembali, semua masih terdiam tak ada yang bias menjawab. Akhirnya saya menggunakan cerita seorang nabi yang membuat Bahtera dan memasukan seluruh binatang kedalam bahtera karena akan datangnya air bah.

Murid-murid pun sontak menjawab NUH!. Yes, Menteri Pendidikan kita adalah M. Nuh.

Banyak pertanyaan yang lemparkan dan mudah sebenarnya untuk dijawab, tapi rata-rata mereka tidak tahu, seperti Ibu Kota Propinsi Jawa Timur, mereka sebut Kota Soe.  Karena frustasi, saya pun akhirnya memberikan pertanyaan “Siapakah Wakil Presiden Indonesia Saat ini?”. Anak-anak berbisik kembali, satu anak mengangkat tangan dan menjawab dengan lantang “M. Hatta!”. Saya malah tambah frustasi!

Saya terdiam, Ya Tuhan, Wakil Presiden pun mereka tak tau. Saya coba melihat didinding kelas, tak ada foto Lambang Garuda, Presiden dan Wakil Presiden terpampang. Seperti sebuah sekolah di negeri antah berantah. Kelas ini pun hanya satu bangunan yang skat menjadi 3 ruangan kelas. Beda sekali dengan ruang kelas di kota besar, Jakarta contohnya, kelas nyaman, keramik, peralatan mengajar lengkap, dan beberapa ber AC. Tapi tidak untuk anak-anak dipedalaman Nusa Tenggara Timur ini. Fasilitas pendidikan yang mereka punya hanya ruang kelas yang skat menjadi 3 ruangan.

Inilah potret pendidikan dipedalaman negeri ini.  Potret kualitas anak-anak bangsa, yang tak diperhatikan oleh pemerintah. Potret kebanyakan sekolah di seluruh pelosok Indonesia yang terlupakan. Selain mimimnya sarana pendidikan, kualitas pendidik di sekolah ini pun terbilang rendah. Mereka hanya lulusan SMA dan bergaji Rp. 100,000 sebulan, sedikit lebih baik daripada gaji Asnat Bell yang hanya Rp. 50,000 sebulan. Dengan kualitas guru yang sedemikian kurang ditambah dengan sarana yang tak memadai serta tak ada sumber informasi, seperti televisi dan internet membuat anak-anak tak mengenal Wakil Presiden Negeri ini yang memang selama ini beliau kita rasakan namun jarang terlihat.  Pendidikan bermutu seyogyanya bukan untuk anak-anak dikota besar, tetapi juga menjadi prioritas untuk mereka yang ada dipedalaman dengan segala keterbatasan.

Akhirnya kuis pun usai, saatnya berpisah dengan anak-anak hebat di Kolbano, saya meninggalkan sebuah pesan di buku tamu sekolah “ Ajar anak-anak tentang pengetahuan lebih lagi, guru harus menjadi berkualitas untuk generasi NTT yang hebat”.

 

Sumber: seribuguru.org

You may also like...

Popular Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *