Ketika Pendidikan Terjerat Kemiskinan

1Education is the great engine of development.” Ungkapan Nelson Mandela (1918-2013) ini memang benar adanya. Pendidikan merupakan mesin besar pembangunan, lewat pendidikan dapat memajukan dan mengembangkan suatu negara. Sebagai contohnya di negara-negara barat kemajuannya sangat pesat terutama negara Amerika Serikat, itu disebabkan sumber daya manusia yang berkualitas.

Namun, ternyata kutipan itu belum bisa memotivasi Negara Indonesia. Masih banyak daerah-daerah di Indonesia yang kurang kesadarannya akan pendidikan. Inilah yang menyebabkan Indonesia semakin tertinggal dan belum bisa mengikuti perkembangan dunia. Salah satu contohnya adalah daerah Kabupaten Gunung Kidul.

Kabupaten Gunung Kidul secara geografis berbatasan dengan Kabupaten Sleman dan Kabupaten Klaten, Jawa Tengah di sebelah utara, di sebelah timur daerah ini berbatasan dengan Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Bagian selatan berbatasan langsung dengan Samudera Hindia, sedangkan di bagian barat berbatasan dengan Kabupaten Bantul. Kabupaten Gunung Kidul memiliki luas wilayah 1.485 kilometer persegi 144 kecamatan. Dari 144 kecamatan, 60,69% dari jumlah tersebut merupakan desa tertinggal.

Berdasarkan data demografi tahun 2009 yang disampaikan Disdikpora Kabupaten Gunung Kidul, pada sektor pendidikan diperoleh data dari 688.145 jiwa, yang tidak/belum pernah sekolah sebanyak 24.304 (3,53%), tidak/belum tamat SD sebanyak 78,470 (11,40%), dan tamat SD dan sederajat 237,944 (34,58%). Dari data diatas mencerminkan bahwa adanya kegagalan program pemerintah yang mencanangkan wajib belajar pendidikan dasar 12 tahun yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan taraf kehidupan rakyat dalam rangka menjawab kebutuhan dan tantangan dan kebutuhan jaman.

Kesadaran akan pentingnya pendidikan sangat minim di daerah ini. Banyak yang masih menyepelekan pendidikan. Mereka menganggap hanya dengan keahlian membaca, menulis, dan berhitung sudah cukup untuk bekal dalam mencari pekerjaan. Toh, mereka berpikir bahwa nanti hanya meneruskan pekerjaan orang tua mereka.

Tentu yang menjadi masalah pokok kenapa kesadaran akan pendidikan kurang adalah masalah kemiskinan. Kabupaten Gunung Kidul memiliki 74.362 penduduk miskin, kondisi ekonomi inilah yang membuat banyak orang tua enggan untuk menyekolahkan anaknya. Biaya hidup yang semakin tinggi tidak diimbangi dengan pendapatan yang meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan hidup pun sulit apalagi untuk memenuhi kebutuhan anak yaitu pendidikan. Sebagian besar masyarakat Kabupaten Gunung Kidul hanya bekerja sebagai petani tadah hujan.

Faktor kemiskinan membuat pola pikir masyarakat berpendapat bahwa lebih baik bekerja mencari nafkah daripada mengenyam pendidikan. Padahal jika anak-anak mereka diberi kesempatan untuk bersekolah akan ada harapan adanya perbaikan kondisi ekonomi. “Education is the most powerul weapon which you can use to change the world.” Kutipan dari Nelson Mandela tadi menggambarkan bahwa dengan pendidikan dapat memberikan pengaruh pada dunia. Itulah mengapa begitu penting pendidikan bagi anak-anak di zaman sekarang ini. Pendidikan yang tinggi inilah yang menjadi bekal dalam menghadapi perkembangan zaman yang semakin berkembang.

Pemerintah terutama Dinas Pendidikan bersama masyarakat memiliki andil dalam mengentaskan kemiskinan melalui pendidikan. Perlu adanya kerjasama untuk mewujudkan cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa demi terentasnya kemiskinan di Gunungkidul sehingga taraf kehidupan masyarakat meningkat.

Pendidikan adalah salah satu pilar, kunci yang akan menentukan kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang. Pemerintah dan masyarakat harus bahu membahu membangun prakarsa pendidikan agar masyarakat Gunungkidul menjadi masyarakat yang cerdas dan bermartabat.

Oleh : Stevani Suryaningtyas
(Tim inti @1000_guruJogja)

You may also like...

Popular Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *