Kumala, Anak Berkebutuhan Khusus Yang Tetap Mau Sekolah Normal

Pagi ini Jakarta terasa panas, sudah hampir 2 jam saya menunggu kereta dari Bogor, menunggu seorang teman yang tertarik dengan kehidupan anak-anak penderita keterbelakangan mental dan berkebutuhan khusus. Selvitra, mahasiswi jurusan akuntasi disalah satu perguruan tinggi dibogor ini ingin bertemu dan mengunjungi Kumala, 10 tahun, bocah kecil yang lahir dengan keterbatasan dan menderita cacat fisik, hidup diperkampungan kumuh di pinggiran Jakarta serta korban kebakaran di Kampung Pulo Jakarta Utara.

Kumala lahir dari pasangan yang sederhana, ketika Kumala lahir, tak ada tanda-tanda keanehan dalam dirinya. Saat usianya 2 tahun ibunya meninggal, meninggalkan Kumala dan 1 orang kakaknya.

Sejak umur 4 tahun itulah tanda-tanda keanehan tampak dalam tubuh Kumala, jalannya tak sempurna, bicaranya gagap, dan lebih pendiam. Saat Kumala didaftarkan untuk masuk sekolah, pihak sekolah menyarankan agar Kumala disekolahkan di Sekolah Luar Biasa saja, namun Keluarga menolak, karena keterbatasan ekonomi, ayah Kumala hanya buruh lepas, tak sanggup untuk menyekolahkan Kumala di sekolah luar biasa. Ayahnya pun tetap ngotot menyekolahkan Kumala di sekolah anak-anak yang normal lainnya. Akhirnya sekolah menerima Kumala. Dan dengan keterbatasan dan kekurangannya Kumala dapat bersekolah di sekolah seperti anak-anak normal lainya. Bahkan prestasinya pun luar biasa, selalu mendapat ranking 4 besar disekolahnya.

Kini Kumala kelas 4 SD, 7 tahun sudah ibunya pergi meninggalkan dirinya, menjadi anak piatu yang tinggal dipinggiran Jakarta dengan segala keterbatasan dan kekurangannya. Namun semangatnya untuk belajar tak pernah luntur, ia pun tak pernah merasa disisihkan disekolahnya, teman-temannya pun menyanyanginya.

Pagi itu, Pkl. 03.00 WIB dini hari, api berkobar mulai membakar beberapa rumah-rumah kayu dibelakang rumahnya, dan dalam hitungan menit, api itu pun menghanguskan rumahnya. Membakar seluruh apa yang dia milik. Kampung Pulo Kelapa Gading ludes oleh si jago merah. Kumala dan keluarganya berhasil menyelamatkan diri, namun hartanya orang tunya tak terselamatkan, termasuk baju seragam sekolahnya.

Esok paginya setelah kebakaran, Kumala pun tetap bersekolah, walau tak ada seragam sekolah, Kumala tetap berangkat untuk belajar. Tak ada Tas, Sepatu dan buku belajaran, hanya satu buku tulis, sepasang pakaian yang melekat dibadannya dan sandal ia berangkat kesekolah.Tak terpikirkan olehnya untuk membolos dan bergabung dengan teman-teman sebayanya mencari besi di bekas kebakaran.

Selvitra bersama Kumala (Baju Ungu)

Kini Kumala hanya tidur di puing-puing bekas kebakaran, beratap terpal yang panas jika siang hari dan dingin serta bernyamuk ketika malam hari. Begitulah hari-harinya ia lalui di lokasi kebakaran Kampung Pulo Jakarta Utara.

Kini 12 hari sudah berlalu, baju seragam lengkapnyanya pun belum mampu terbeli. Hanya sepotong baju seragam yang mampu neneknya beli. Namun Kumala tak mengeluh, ia tau dengan keadaan orang tua dan neneknya yang terkena musibah kebakaran, ia tetap semangat untuk belajar.

Dan Hari ini, kami pun meluangkan waktu untuk mengujungi Kumala, gadis hebat dengan segala kekurangannya, seorang gadis cilik yang telah lama di tinggal ibunya, seorang gadis cilik yang hidup di puing bekas kebakaran. Kami memberikan Kumala beberapa buku-buku bacaan, agar menjadi hidupan di tempatnya tinggal yang habis karena kebakaran. Selvitra pun tergugah hatinya untuk mengadopsi Kumala, menjadikannya adik, untuk terus mensupport dan memperhatikan kebutuhan pendidikan Kumala kedepan. Agar Kumala dapat menggapai mimpinya, membahagiakan kakak, bapak dan neneknya kelak.

Kalau bukan kita yang menyanyangi dan memperhatikan anak-anak berkebutuhan khusus yang berkekurangan, lalu siapa lagi?

sumber: seribuguru.org

You may also like...

Popular Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *