Perjuangan Penuh Kebahagiaan adalah Menjadi Seorang Relawan [by: Ikrimah Vella R]

Sebetulnya saya lebih dulu aktif dengan kegiatan sosial di Ruang Mengabdi dan TurunTangan. Hanya saja dengan segala hormat, izinkan saya berbagi pengalaman bersama 1000 Guru Jogja. Lain waktu akan saya share juga pengalaman bersama Ruang Mengabdi khusunya di Bandung Bercerita dan TurunTangan Cirebon.

Ketika tahu ada open recruitment volunteer 1000 Guru Jogja untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional, segera saya mendaftar hari itu juga. “Kamu kan kuliah di Bandung, kenapa mendaftar di Jogja? Padahal di Bandung ada.” Hm, kalau 1000 Guru Cirebon ada, kemungkinan besar saya memilih 1000 Guru Cirebon. “Belum terjawab, kenapa Jogja? Padahal Bandung ada.” Oke! karena… saya lebih suka Jogja. Udah itu aja.

Ketika mendaftar di google form terdapat dua pertanyaan menarik, seperti di bawah ini:

Apa motivasi Anda mengikuti TNT11?

Lalu saya jawab:

Jika “hanya” berkomentar/mengeluh di sosial media perihal keburukan kinerja pemerintah yang belum mampu menyelesaikan permasalahan di pedalaman, hal itu tidak akan menyelesaikan persoalan. Jika melihat masalah, tugas pemuda/pemudi untuk menyelesaikan. Besar harapan saya menjadi penggerak perubahan. Salah satunya melalui 1000 Guru Jogja. Terlebih lagi ranah saya adalah pendidikan dan sangat mencintai anak-anak. Karena bagi saya, baik atau buruknya suatu negara bergantung pada berkualitas atau tidaknya penerus bangsa. Maka, saya ingin memotivasi anak-anak di pedalaman Kebumen untuk bersemangat meraih cita-cita meski (mungkin) minim fasilitas.

Satu lagi.

Apa makna Hari Pendidikan Nasional menurut pandangan Anda?

Ini jawaban saya:

Jika berbicara mengenai Hari Pendidikan Nasional, maka spontan teringat pada tanggal 2 Mei, yaitu hari kelahiran Raden Mas Suwardi Suryaningrat atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ki Hajar Dewantara. Bapak pendidikan nasional Indonesia. Makna, merujuk pada arti atau esensi. Maka, bagi saya, Hari Pendidikan Nasional adalah suatu pengingat bahwa pendidikan adalah tonggak peradaban. Semakin terdidik, semakin beradab. Semakin banyak ilmu, semakin bijak. Suatu pengingat bahwa pendidikan Indonesia seharusnya tidak perlu tergopoh-gopoh mengikuti pendidikan Barat atau pun Eropa. Kurikulum dan segala perangkat pembelajaran seharusnya diselaraskan dengan budaya Indonesia agar tercipta generasi yang tidak hanya pandai dan cerdas dalam berbicara. Namun juga mampu mengamalkan sikap toleransi agar terjaga kerukunan bangsa.

Berhasil lolos di seleksi pertama, selanjutnya seleksi kedua yaitu tahap wawancara. Berhubung Bandung dan Yogyakarta tidak sedekat hidung dan bibir, maka panitia mempersilakan saya melakukan wawancara melalui video call. Betapa bahagianya saya karena diberi kemudahan.

Kabar menggembirakan datang, saya diterima! Langsung sujud syukur.

4 Mei 2017, pagi hari saya melaksanakan Ujian Program Pengalaman Lapangan di salah satu SMA Swasta di Kota Bandung. Hasil ujian memuaskan: dosen dan guru pamong memberikan komentar yang benar-benar melegakan. Pukul 12:00 izin pulang lebih awal ke pihak sekolah karena harus siap-siap berangkat menuju Yogyakarta. Pukul 15:00 Kota Bandung diguyur hujan. Apa daya, menuju stasiun harus menggunakan jas hujan. Macet + hujan bukan kendala bagi saya, karena yang ada dalam benak saya adalah bertemu adik-adik di MI Ma’arif, Karangsambung, Kebumen. Namun tetap saja, resah. Saya menghubungi teman yang memiliki usaha jual-beli tiket untuk segera mempersiapkan pemesanan tiket kereta jenis apapun yang bisa mengantarkan saya malam itu juga ke Yogyakarta. Telat satu menit saja sudah pasti ditinggal kereta, tapi Tuhan Maha Penyayang, tepat ketika kaki menginjak pintu gerbong – peluit berbunyi menandakan bahwa kereta akan segera berangkat. Segala puji bagi Tuhan Semesta Alam.

Pagi hari di Yogyakarta sebelum berangkat ke Kebumen, saya sempatkan mengunjungi makam Raden Mas Suwardi Suryaningrat di Taman Wijaya Brata di Jalan Soga, Tahunan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta. Layaknya peziarah, saya membaca beberapa ayat suci al-quran. Setelah itu, saya menangis. Berusaha berkomunikasi dengan beliau “maka pantaskah aku melanjutkan perjuanganmu? Beristirahatlah dengan tenang. Aku akan berusaha membuatmu senang.”

Lepas maghrib, 18 volunteer yang terpilih dari 218 orang pendaftar berkumpul di SPBU Ambar Ketawang bersama panitia dan AVOID (Avanza Owner Indonesia) regional Yogyakarta. Kami melakukan perjalanan menuju Kebumen. Setelah tiba di Kebumen, kami disambut oleh HMPC (Honda Megapro Club) regional Kebumen, mereka mengiringi kami menuju lokasi. Keesokan harinya, kami berjalan kaki menuju MI Ma’arif. Saya tidak merasa ada sekat di antara panitia, volunteer, AVOID dan juga HMPC. Kami menggunakan baju yang sama. Melakukan aktivitas yang sama pula. Baru saja menginjakkan kaki di gerbang tanpa pagar dari sekolah tsb — mata saya berkaca-kaca. Melihat kondisi sekolah. Menerima sambutan hangat guru-guru dan adik-adik kelas satu sampai kelas enam. Makin berkaca-kaca ketika mata tertuju pada sepatu koyak dan seragam lusuh, namun ketika pandangan beralih ke wajah mereka, saya melihat senyum lebar dan kedipan mata yang menyejukkan. Seperti biasa, antara hati dan mata lagi lagi bekerja dengan cepat. Tidak bisa lagi dibendung. Berlinanglah airmata. Dalam hati “Ah! Senyumnya membuatku iri! Mereka merdeka dengan segala keterbatasannya. Betapa bahagianya mereka.”

Memasuki kelas, saya melihat ruangan tanpa langit-langit. Ada pula kelas yang disokong dengan tiang dari bambu. Ketika bambu tersebut tersenggol dan jatuh, maka rubuhlah atap ruangan itu. Betapa celakanya mereka yang berada di atas sana. Menikmati sejuknya Air Conditioner di gedung mewah yang “katanya” bekerja untuk kepentingan rakyat. Rapat, tanda tangan, rapat, tanda tangan. Mereka yang di atas hanya tahu “semua aman terkendali” atau “semua sudah terlaksana dan merata” tanpa tergugah hati untuk datang langsung dan melihat dengan mata telanjang. Ah, iya! Lupa! Kalaupun mereka yang di atas berniat turun ke bawah pasti dengan sigap segala sesuatunya dipersiapkan agar terlihat “baik-baik saja, tidak ada masalah”. Pendanaan dengan cepat disalurkan untuk perbaikan. Hah, senyum sinisku kembali untuk mereka yang merasa sudah berjuang untuk bangsa nyatanya tidak bisa melihat Indonesia yang sesungguhnya. Karena itu, berada di atas bukanlah mimpi saya.

Pagi hingga sore, kami mendidik dan melakukan kegiatan yang membuat adik-adik bahagia. Kebetulan, saya mendapatkan amanah untuk meng-handle kelas empat dengan materi mengenai peta dan pahlawan nasional. Lagi-lagi saya harus menahan air mata ketika saya bertanya “siapa pahlawan Indonesia yang adik-adik suka?” mereka tidak menjawab, saya tanya kembali “loh kenapa diam?” serentak mereka jawab “enggak tahu kak” satu anak menjawab lantang sembari mengangkat tangan kanan ke atas “Jokowi, kak!”. Ya Tuhan, bahkan pahlawan pun mereka tidak tahu. Saya bergumam dalam hati “KEMANA SAJA SAYA SELAMA INI?!!!!!!!!!!” kesal terhadap diri sendiri.

Seluruh adik-adik menggunakan mahkota cita-cita. Saya lihat, cita-cita mereka tidak jauh berbeda dengan anak-anak yang berdomisili di kota. Menjadi dokter, TNI, polisi, guru, dan lain-lain. Lantas kami kobarkan semangat meraih cita-cita pada mereka. “Dik, kesuksesan adalah milik semua anak bangsa. Bukan hanya milik mereka yang orangtuanya bergelimang harta. Kalian berhak meraih cita-cita. Kalau kalian mendapati kesulitan, silakan hubungi kakak. Kelak, kalau kalian sukses, ingat, bantu untuk kemajuan desa.” Tidak hanya itu, kami juga berikan edukasi mengenai gosok gigi dan cuci tangan yang baik. Setelah itu, kita bagikan cenderamata untuk mereka berupa tas, buku, susu dan lain sebagainya. Melihat senyum dan tawa mereka menerima itu — bahagia pula hati kami. Ketika di penghujung acara, beberapa adik-adik menangis memohon “kakak jahat, kakak jangan pulang, kakak di sini aja, kakak jadi guru di sini aja!” siapa yang bisa menahan air mata ketika dihadapkan pada posisi itu? Terus terang, tangisan paling parah bagi saya adalah saat perpisahan, yaitu saat melihat tangisan mereka menahan kita untuk tetap tinggal di sana.

Berdasarkan pengalaman tersebut, saya sadar bahwa duniaku bukan di atas dengan kekayaan dan keinginan tanpa batas. Duniaku di bawah bersama mereka. Melihat senyum mereka saja sudah membuatku bahagia, sesederhana itu. Membahagiakan lalu kita ikut merasakan kebahagiaan, bukankah itu pertanda bahwa Tuhan Yang Maha Esa meridhoi kita?

Setiap volunteer 1000 Guru diwajibkan membayar sekian ratus ribu rupiah untuk biaya transportasi, biaya makan selama di pedalaman serta sumbangan kepada peserta didik dan sekolah. Saya lebih merasa bahwa 1000 Gurulah pejuang pendidikan yang sesungguhnya. Karena pejuang adalah relawan. Dan relawan tidak mengharapkan imbalan. Tujuannya tetap suci, murni dan bersih. Tidak mengutamakan kepentingan pribadi untuk mendapatkan gaji besar ataupun sertifikat mengajar. Betapa licik dan piciknya mereka yang memanfaatkan suatu program untuk mengkayakan diri. Saya merasa beruntung bisa bergabung menjadi relawan di 1000 Guru Jogja, kitalah yang dimaksud “guru tanpa tanda jasa”.

Kepada 1000 Guru Jogja,

Terima kasih telah memberi saya kesempatan untuk melihat kemerdekaan Indonesia dengan lebih dekat.

Kepada seluruh relawan 1000 Guru Jogja,

Semoga kita tetap istiqomah di jalan perjuangan, tetap bisa berjuang untuk perbaikan pendidikan. Bersama 1000 Guru atau pun tidak semoga kita tetap memiliki semangat untuk menilik setiap sekolah yang membutuhkan bantuan kita. Percayalah, ketika kita meringankan beban orang lain, maka Tuhan akan ringankan beban kita. Terima kasih telah menyadarkan saya bahwasannya perjuangan yang penuh kebahagiaan adalah menjadi relawan.

Saya bersyukur bisa mengenal kalian.

 

Dengan cinta,

 

Ikrimah Vella R, Volunteer #TNT11 1000 Guru Jogja.

You may also like...

Popular Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *