Sefnat Tabun, Bergaji Rp. 225 Ribu, Berjalan 10 Km Untuk Mencerdaskan Anak Bangsa

Pagi baru saja datang, tanda hujan semalaman membekas di tanah, jalanan sedikit becek dan tanah-tanah lengket ditelapak kaki, langit pun enggan cerah, masih turun gerimis. Dari kejauhan terlihat asap membumbung ke atas dari rumah sederhana berdinding susunan pohon aren, tampak wanita paru baya sibuk menyiapkan sarapan untuk keluarga. Kesibukan yang hampir di lakukan setiap hari, menyiapkan sarapan untuk ke 4 orang anak dan suaminya yang berprofesi sebagai pendidik di sebuah sekolah menengah pertama di desa Boti, NTT.

Sefnat Tabun, begitulah ia di panggil, lelaki berusia 46 tahun, tampak sibuk menyiapkan bahan pelajaran untuk hari ini. Hari Senin yang selalu sibuk untuknya, apalagi setiap hari senin adalah jam ke 1 baginya untuk mengajar mata pelajaran bahasa Inggris. Semua telah siap, sarapan pagi ini pun sudah dilahapnya, menu sederhana, hanya pisang rebus dengan sambal dan secangkir Kopi hangat.

Waktu sudah menunjukan Pkl. 07.00 WIT, tanda-tanda gerimis reda pun tak tampak, langit masih menghitam di balik bukit, dari subuh tadi gerimis datang setelah hujan deras semalaman, tak ada cukup waktu pagi Sefnat untuk menunggu redanya rintik hujan, pantang baginya untuk telat datang kesekolah hanya demi menunggu gerimis yang tak mau berhenti.  Sefnat harus tetap berangkat mengajar, dilipat celananya, dijinjing sepatunya, lalu berpamitan dengan istri tercinta”Mama, beta berangkat”.

Pagi ini, Jalanan tak bersahabat baginya. Rute jalanan menuju sekolahnya yang setiap hari ia lalui tidaklah mudah, bukan jalan mulus seperti dikota-kota besar lainnya, tapi sebuah jalan berlumpur , becek, mendaki  juga menurun dan itu ia lalui dengan berjalan kaki, jarak yang ia tempuh untuk sampai di sekolah tempat ia mengajar adalah 5 km, tak ada sepeda apalagi motor, hanya berjalan kaki. Bila dihitung pulang pergi, maka total jarak yang ia tempuh adalah 10 km.  Sepanjang jalan tampak ia beberapa kali berhenti untuk membersihkan lumpur dikakinya, lalu berjalan lagi, dan gerimis masih tak mau berhenti, tetap turun sepanjang perjalananya.

18 tahun sudah lamanya Sefnat menjadi guru honor, dari bergaji 15 ribu pada tahun 1994 hingga gajinya 225 ribu di tahun 2013 ini. Sudah dicobanya untuk menjadi tenaga pendidik dengan status kepegawaian negeri, tapi tak pernah lolos, ia pun masih tetap menjadi guru honor, bergaji pas-pasan bahkan kurang. Semua ini dia lakukan untuk anak-anak di desa Boti yang butuh pendidik-pendidik berhati mendidik seperti dirinya. Walau hanya Mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris, Sefnat Tabun, lelaki paruh baya itu tetap ceria, lincah dan tak pernah mengeluh, tampak dari cara bicara dan wajahnya yang selalu sumringah, tak terlihat beban berat dalam hidupnya.

Selama 18 tahun itu pula dia selalu berjalan kaki, tak mampu dirinya membeli sebuah sepeda motor, dengan gajinya yang pas-pasan dan kadang kurang, ia harus dapat menghidupi ke 4 anak dan istrinya. Dengan harga sepeda motor bekas 7 juta, untuknya adalah suatu kemustahilan, itulah sebabnya ia selalu mengurungkan niatnya untuk membeli sepeda motor, agar ia tak lagi harus berjalan berkilo-kilo meter menuju sekolah untuk mengajar.

Ada 2 guru bahasa inggris di sekolah SMP NEGERI SATAP Oefo NTT ini, dan pendidik yang mempunyai berkualitas baik , rajin, berdedikasi serta mempunyai hati mendidik adalah pak Sefnat Tabun. Kenapa tak membeli sepeda saja? Saya coba memberi pertanyaan kepada pak Sefnat, menurut pak Sefnat jalanan yang menanjak tak rata dan melewati sungai berbatu, tak cocok untuk mengendarai sepeda ontel. Dengan kondisi jalanan seperti ditambah hujan, tak mungkin bisa sepeda ontel terpakai disini.

Transportasi yang murah baginya adalah hanya dengan berjalan kaki berkilo-kolo meter. Bila dengan ojek motor, Sefnat harus merogoh kocek 35 ribu untuk sekali jalan, pp 70 ribu, mana cukup gajinya untuk biaya ongkos ojek selama satu bulan?.

1 jam sudah Sefnat berjalan menuju sekolahnya, tampak beberapa murid sudah berdatangan, biasanya bila turun hujan murid banyak tak datang. Tak hanya murid, beberapa guru pun malas datang kesekolah, alasan  yang klasik “HUJAN”.

Dibalik semua kesulitan yang ia hadapi, Sefnat tetap semangat mengajar, walaupun tak pernah merasakan gaji di atas satu juta selama 18 tahun, 225 ribu sebulan sudah cukup baginya. Semangat mengajarnya tetap selalu ada, berjalan berkilo-kilo meter, menembus gerimis pagi ini dan sesampainya di sekolah terlihat hanya beberapa murid yang datang, Sefnat tak lantas bersantai dan tak masuk kelas, ia tetap menunaikan tugasnya mengajar.

Satu hal yang dapat kita contoh dari sosoknya adalah Jarak tak menjadi alasan untuk ia bermalas-malasan, walau tak ada sepeda motor, jalan kaki pun harus dia lakukan, demi mencerdaskan anak bangsa. Dan disaat yang sama ketika Sefnat Tabun berjalan kaki berkilo-kilo meter menuju kesekolah untuk mendidik anak bangsa, di tempat lainnya para pejabat negeri sedang membeli mobil baru, dengan uang pajak Negara yang harusnya untuk mensejahterkan guru dan pendidik seperti Sefnat Tabun ini.

Satu hal yang tersirat dari kepribadian Sefnat Tabun saat saya bertemu dengan nya,  ia adalah seorang yang gigih dan penuh kejujuran, tak ada kepura-puraan.

Kini, berkat bantuan para follower, Pak Sefnat Tabun sudah tidak perlu berjalan kaki lagi untuk mendidik anak bangsa. Sebuah motor bekas layak pakai merk Honda Revo di belikan untuk Pak Sefnat. Walau sepeda motor ini tidak baru, kami berharap dapat membantu Pak Sefnat untuk mengajar di sekolah yang selama ini jauh dari tempat tinggalnya. Senyum bahagia terpancar di matanya, tak bisa berkata-kata. “Terima Kasih Bapak sudah beri beta sepeda motor, beta akan rawat motor ini dan akan terus bersemangat mendidik anak-anak bangsa di pedalaman NTT” ucapnya lirih

 

Sumber: seribuguru.org

You may also like...

Popular Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *