Windoyo, Sang Penanam Pohon Keliling

Pagi ini cerah sekali kota Solo, semalam baru saja turun hujan, keramain meyeruak di pintu gerbang Keraton Solo. Susana lazim di akhir pecan. Setelah menikmati indahnya kota Solo, saya berjalan keliling hingga kelapangan di belakang Keraton, banyak penjual kaki lima bertebaran. Asik berputar putar ria, saya berpapasan dengan seorang bapak tua yang susah payah berjalan dengan kursi roda. Saya terus melaju melewatinya. 200 Meter berlalu, saya masih kepikiran tentang bapak tadi. “Bro, yuk balik lagi, gw penasaran sama bapak tadi ..” ajak saya ke sahabat. Kami pun memutar mobil & mencoba mencari bapak tadi. “Kemana dia bro, kok nggak ada ..” tanya saya . “Ada pasti di sekitar sini”Jawab teman 10 menit setelah kami mencari akhirnya kami menemukannya. Sosok pria tua dengan pakaian lusuh diatas kursi roda, susah payah berjalan Tertatih tatih melewati polisi tidur, yang mencoba menghambat laju kursi rodanya Saya pun memanggilnya, “Pak pak tunggu ..” Ia pun menoleh “Kenapa mas?” tanya nya. “Boleh kita ngobrol”.Namanya Windoyo, pria umurnya hampir 70 tahun. Setiap hari, waktu ia habiskan di atas kursi roda, berkeliling sekitar Keraton Solo. Umur 21 tahun, sebuah kereta menghajar kedua kakinya. Dan setelah itu ia kehilangan kedua kaki kesayangannya. Sejak saat itu, ia hanya bisa berjalan dengan kursi roda hingga saat ini.

Keadaan yang sangat menyulitkan untuk ia beraktifitas normal, Kemana mana ia selalu ditemani dengan kursi roda kesayangannya. Ada bungkus plastik besar di bagian belakang. berisi pakaiannya sehari hari. Tak punya rumah dan harta.Yg ada hanya bungkusan pakaian,kursi roda& stiker lambang Pancasila tertempel di kursi roda. Ia tidur di mesjid di sekitar Solo. dan hanya itulah tempatnya berlindung bila malam menjelang. Bagi masyarakat sekitar, Windoyo adalah orang yang tak mau meminta2 dengan keadaanya seperti. Ia adalah sosok yang mau bekerja keras. Ia pernah berjualan Koran, setiap hari 50 koran berhasil ia jual. Hasil berjualan koran, digunakannya untuk makan. Rasa kasihan saya mulai hilang berganti kagum, ketika mendengar kisah perjuangan hidupnya. Dia adalah sosok yang mau bekerja keras. 4 tahun ia menjadi penjual koran keliling, bayangkan berkeling berjualan dengan kursi roda? sulit membayangkan. Akhirnya dia pun tak sanggup lagi berjualan koran keliling karena usianya yang mulai lanjut. Tenaganya mulai lemah. Ia kini beranjak tua. Obrolan kami berhenti, ketika ia kehausan dan memanggil empunya rumah dimana kami ngobro di luar depan gerbangnya “Bu, nyuwon banyu”,”Bu Minta air minum” pintanya kepada ibu paru baya sang empunya rumah. Tak lama sang ibu keluar membawakannya air teh hangat tawar. Tak butuh lama, teh hangat di gelas besar langsung diminumnya. Ahhh glek glek hausnya terobati. Saya heran, kadang orang – orang seperti ini banyak tak di perhatikan oleh masyarakat.Didepan rumah pun terpampang “Pengemis dilarang masuk”. Tapi ini beda.Sang ibu seperti tak direpotkan bantu pak Windoyo.Dengan senang hati sang ibu memberikannya minum tanpa menggerutu.Ada apa?. “Dia itu tidak pernah minta minta, kadang dia lewat sini minta tanaman, anakan pohon, bunga untuk dia tanam di pinggir jalan” Jelas sang ibu, Jadi masyarakat disini senang, karena walau dia seperti, tapi dia peduli lingkungan. Menanam pohon” Jelasnya lagi. saya terdiam.

Teringat orang orang normal, menggunakan kedua kakinya menjelajah hutan nusantara hanya untuk menebang secara membabi buta tanpa ampun. Ternyata ada sosok tua dengan segala kekukarangan, mencintai alam. Walau apa yang ia lakukan tak besar seperti baliho pejabat menanam pohon, Ah saya tak percaya penjelasan ibu tadi. mungkin saja si ibu ngarang cerita. Setelah minum, Windoyo berpamitan dengan saya, Ia menerima dan berlalu sampai melambaikan tangannya “Matursuwun mas, semoga Allah memberkahi sampean nggih”. Saya pun pergi melanjutkan perjalan menikmati keraton Solo. Ah benar gak sih dia nanam pohon, bunga gitu.Saya mampir ke tukang becak mangkal, mereka dari tadi memperhatikan “Bener pak, Pak Windoyo itu gk pernah minta minta dan suka minta bunga untuk ditanam?” Bener mas” jawabnya. Dibalik kekurangan fisik, ternyata peduli terhadap lingkungan.Daripada mereka yg atas nama Devisa menjual hutan negara utk perutnya sendiri.

Semoga dengan kisah Pak Windoyo, kita dapat melakukan hal terkecil untuk lingkungan kita. Menanam lebih baik daripada menebang. Sekian.

Sumber: seribuguru.org

You may also like...

Popular Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *